Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryNov 8, '05 11:22 AM
for everyone
Mungkin pertanyaan ini sedikit mengganggu: Manakah diantara kalimat-kalimat di bawah ini yang benar?

A.       Minal 'aidin wal faizin, mohon maaf lahir-bathin
B.       Mohon maaf lahir-bathin, minal 'aidin wal faizin
C.       Semoga kita dimaafkan minal 'aidin wal faizin
D.       Semoga kita minal 'aidin wal faizin
E.        Semua benar

Kalau kita tadi menyoal tentang asal kata Ied (masdar atau kata dasar dari 'aada=kembali), sekarang kita mencoba untuk membongkar asal kata 'Aidin dan Faizin. Darimana sih mereka?

'Aidin itu isim fa'il (pelaku) dari 'aada. Kalau anda memukul (kata kerja), pasti ada proses "pemukulan" (masdar), juga ada "yang memukul" (anda pelakunya). Kalau kamu "pulang" (kata kerja), berarti kamu "yang pulang" (pelaku). Pelaku dari kata kerja inilah yang dalam bahasa Arab disebut dengan isim fa'il.

Kalau si Aidin, darimana? 'Aidin atau 'Aidun itu bentuk jamak (plural) dari 'aid, yang artinya "yang kembali" (isim fa'il. Baca lagi teori di atas). Mungkin maksudnya adalah "kembali kepada fitrah" setelah berjuang dan mujahadah selama sebulan penuh menjalankan puasa.

  • 'aada = ia telah kembali (fi'il madhi).
  • Ya'uudu = ia tengah kembali (fi'il mudhori)
  • 'audat = kembali (kata dasar)
  • 'ud = kembali kau! (fi'il amr/kata perintah)
  • 'aid = ia yang kembali (isim fa'il).

Kalau si Faizin?

Si Faizin juga sama. Dia isim fa'il dari faaza (past tense) yang artinya "sang pemenang". Urutannya seperti ini:

Faaza = ia [telah] menang (past tense)
Yafuuzu = ia [sedang] menang (present tense)
Fauzan = menang (kata dasar).
Fuz = menanglah! (fi'il amr/kata perintah)
Fa'iz = yang menang.


'Aid (yang kembali) dan Fa'iz (yang menang) bisa dijamakkan menjadi 'Aidun dan Fa'izun. Karena didahului "Min" huruf jar, maka Aidun dan Faizun menyelaraskan diri menjadi "Aidin" dan "Faizin". Sehingga lengkapnya "Min Al 'Aidin wa Al Faizin". Biar lebih mudah membacanya, kita biasa menulis dengan "Minal Aidin wal Faizin".

Lalu mengapa harus diawali dengan "min"?

"Min" artinya "dari". Sebagaimana kita ketahui, kata "min" (dari) biasa digunakan untuk menunjukkan kata keterangan waktu dan tempat. Misalnya 'dari' zuhur hingga ashar. Atau 'dari' Cengkareng sampe Cimone.

Selain berarti "dari", Min juga mengandung arti lain. Syekh Ibnu Malik dari Spanyol, dalam syairnya menjelaskan:

Ba'id wa bayyin wabtadi fil amkinah # Bi MIN wa qad ta'ti li bad'il azminah

Artinya: Maknailah dengan "sebagian", kata penjelas dan permulaan tempat... dengan MIN. Tapi kadang ia untuk menunjukkan permulaan waktu.

Dari penjelasan Ibnu Malik di atas, kita bisa mendapatkan gambaran bahwa MIN pada MIN-al aidin wal faizin tadi menunjukkan kata "sebagian" (lit-tab'idh). Jadi secara harfiyah, minal 'aidin wal-faizin artinya: BAGIAN DARI ORANG-ORANG YANG KEMBALI DAN ORANG-ORANG YANG MENANG.

Nah, pusing kan? Tunggu dulu. Sabar, napa.

Kalimat di atas adalah kalimat doa. Baik dalam Al-Quran dan Hadis banyak kalimat-kalimat seperti itu yang menunjukkan doa kepada yang bersangkutan. Kita sering menambahi julukan kepada orang yang sudah wafat dengan tambahan "almarhum" yang artinya "yang dirahmati" (terserah orang tersebut rajin sholat atau gak pernah sama sekali). Sebab, itu hanya doa dan pengharapan "semoga ia dirahmati oleh Allah, diberikan kasih sayang-Nya di alam barzakh hingga hari Kiamat".

Akan halnya dengan minal 'aidin wal-faizin, ini juga doa: "Semoga anda termasuk (bagian dari) orang-orang yang kembali kepada fitrah kesucian dan termasuk (bagian dari) orang-orang yang mendapatkan kemenangan". Amin.

Duh indahnya Islam. Sama orang yang nggak puasa saja, sempet-sempetnya kita doain yang bener.

Kesimpulannya?

Ya simpulkan saja sendiri. Yang jelas Minal Aidin tidak ada hubungannya dengan Mohon maaf lahir dan bathin. Ucapkan kalimat a, boleh. Memakai kalimat b, silakan saja. Tapi sekali lagi, mohon maaf lahir bathin itu bukan arti minal aidin. Dan yang penting lagi: jangan memilih c, karena minal aidin tidak pernah bisa memaafkan orang. Tapi pilihan saya adalah d, ini yang paling shahih.

Akhirnya, semoga kita minal 'aidin wal faizin. Amin!

# Taufik Munir
http://www.zonastudi.co.cc


41 CommentsChronological   Reverse   Threaded
anandazahra wrote on Nov 30, '05, edited on Nov 30, '05
sepakat sepakat bung!

tapi emang asiknya abis romadon teh dibilangin kaya gitu teh, emang asik loh

naha cing? soalna, didoain supaya jadi bagian dari yang menang bertempur melawan hawa napsu pan asik atuhlah! (rumaos, abdimah termasuk nu eleh ciganamah ha ha ha ha)...

btw, gimana kalo dibahas pemakaian ta'jil, ta'zil (gawat gak sih), faidzin dst yg rada-rada gatal, maklum kan banyak yg maen tulis aja...

banyak yg awam, seperti saya, butuh banget tuh penjelasan, kenapa sih harusnya ifthar, bukan ta'jil, apalagi ta'zil (maaf.. maaf..)
religiusta wrote on Dec 1, '05
saya, butuh banget tuh penjelasan, kenapa sih harusnya ifthar, bukan ta'jil, apalagi ta'zil
Sebentar... sebentar... sebentar.
Maksudnya ta'jil atau ta'zil pegimana? Ta'jil dengan hamzah berarti penundaan, sedangkan dengan 'ain berarti buru-buru.
Maksud saya, apakah ini terminologi untuk buka puasa juga? Atau memang lain topik?
Mohon maaf, pertanyaannya saya pertanyakan kembali. :)
caturiska wrote on Oct 20, '06
kayaknya telat tuk kasih reply ini..coz lagi cari arti kata minal aidin wal faizin digoogle eh muncul slah satu pilihan ya/ blog nya bapak...tapi terima kasih banyak ya pak buat pengetahuannya yang buanyakkkk..ga ada kata telat khan tuk belajar :)..boleh saya link khan tuk pengetahuan temen2 yang laen..:)
religiusta wrote on Oct 23, '06
Alhamdulillah atuh neng. Kesimpulannya, minal aidin hanya doa. Jadi kalo 'salaman', rasanya kurang afdol kalo gak ngedoa: "Minal Aidin deh ya mbak"?
oranghutan wrote on Oct 25, '06
mas, ada lagi nih. Yang benar mana:
Silaturahim
or
Silaturahmi?

trims sebelumnya
religiusta wrote on Oct 28, '06, edited on Oct 31, '06
Yang benar mana:
Silaturahim
or
Silaturahmi?
Yang jelas jawabannya nggak sederhana. Perlu diurai dulu asal kata kedua kalimat di atas.
SILATURAHIM berasal dari dua kata yang bersusun (isnad idhofi) antara "shilatu" dan "rahiim", atau "shilatu" dan "rahmi". Semuanya bahasa Arab. Kalau kata silatu dipisah (tanpa "rahiim"), dia harus dibaca tanwin. Yaitu SHILATUN.
Bisa juga dibaca SHILAH, kalau bacanya waqof (berhenti).
Tapi biar enak dibaca h-nya dibuang, alias SILATUN, SILATU, atau SILAH saja.

SILAH, SILATU, atau SILATUN artinya = Menyambung.
RAHIIM artinya = kasih sayang.
RAHM atau RAHMI artinya = rahim (organ tubuh wanita di dalam perut).

Coba ya, perhatikan lagi maknanya, jangan terbalik.
RAHIIM artinya = kasih sayang.
RAHMi artinya = rahim.

Kesimpulannya:
SILATU= MENYAMBUNG
RAHIIM=KASIH SAYANG
RAHM=RAHIM WANITA

atau:
SILATURAHIIM =MENYAMBUNG KASIH SAYANG
SILATURAHMI=MENYAMBUNG RAHIM

Jadi jelas kan? Secara bahasa, begitulah adanya. Ada perbedaan makna antara silaturahiim dan silaturahmi. Yang menjadi pertanyaan, apakah penulisan silaturahmi itu SALAH?

Jawabnya: tidak!
Sebab ini yang disebut dengan Majaz Mursal, alias bentuk gaya bahasa yang tidak mengindikasikan peminjaman kata, perumpamaan, atau persamaan melainkan dilihat dari kedekatan kata tersebut dengan sesuatu yang melatarbelakanginya. Lebih spesifik lagi para ulama menyebutnya dengan "Majaz Mursal min itlaqil mahall wa iradatil Hal" (Metafora dengan menyatakan 'tempat', tapi yang dimaksud 'situasi').

Maksudnya begini:
Kita harus banyak berkunjung, berkunjung itu harus didasari dengan latar belakang emosi cinta, sedangkan cinta berasal dari hati.
dengan cinta pula kita bersama, kendatipun terkadang jauh, tapi cinta selalu mendekatkan.
dengan cinta pula manusia menikah, beranak, bercucu, dan lain sebagainya. Maka menyambung tali silaturahmi (menyambung rahim) ialah saling "mempererat sanak saudara, famili, cucu-cucu, dan silsilah keturunan yang berasal dari satu rahim sang ibu.

Makna lainnya:
Sikap hidup penuh kekeluargaan (dengan cara kunjung-mengunjungi) itu bisa dimulai dari keluarga, saudara-saudara, kerabat, paman, bibi, dst baru kemudian saudara jauh, teman, tetangga dekat, tetangga jauh, teman dekat, teman jauh dll.

Dari sinilah kemudian makna RAHMI yang asalnya RAHIM WANITA, memperoleh perluasan arti menjadi yang sering kita ungkapkan, yaitu: MEMPERERAT TALI PERSAUDARAAN, lalu berubah MEMPERERAT TALI UKHUWAH, dan makna-makna positif lainnya.

****

RASULULLAH SENDIRI MENGGUNAKAN KATA "SILATURAHMI"
_______________________________________________________

Lalu apakah nabi SAW pernah menggunakan kata RAHIM? Saya belum pernah membaca nabi menggunakan kata RAHIM, melainkan hanya RAHMI.

Dalam Hadis dinyatakan:
"Man ahabba an yabshutho lahu fi rizqihi wa yansa'a lahu fii atsarihi, fal yashil rahimahu".
Artinya: Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dipanjangkan umurnya, maka lakukanlah SILATURAHMI. (HR. Bukhari-Muslim).

Kata-kata fal yashil rahimahu maksudnya "maka sambungkanlah rahim-rahimnya (maksudnya: sambungkanlah tali-tali kasih sayang-nya)".

Tapi RAHIM yang dalam Hadis tersebut ialah bentuk jamak dari kata RAHMI
RAHMI = BENTUK TUNGGAL
RAHMANI = BENTUK DUA
RAHIM = BENTUK JAMAK.

Jadi, anggap saja jika ada orang yang menulis "silaturahim" itu karena diambil dari Hadis di atas, yaitu sebagai bentuk jamak dari kata RAHMI.

Maaf jika sekiranya penjelasan panjang begini malah merepotkan Mas Orangutan.

Terima kasih,
# Taufik Munir
fetryz wrote on Oct 30, '06
saya link ya kang =)
religiusta wrote on Oct 30, '06
fetryz said
saya link ya kang =)
Atuh mangga, Neng...
marliskoto wrote on Oct 30, '06
Eid Mubarak.................Ponakanku Fetri................gimana lebaran di Tasik ?
thetrueideas wrote on Oct 30, '06
bukannya lebih afdol untuk mengucapakan taqabalallahu minna waminkum mas?
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=373
religiusta wrote on Oct 31, '06
bukannya lebih afdol untuk mengucapakan taqabalallahu minna waminkum mas?
Lebih afdhalnya seperti itu. Tapi saya kan tidak membahas afdhaliyah (mana yang lebih afdhal). Harapan saya semoga frasa minal aidin itu tidak disalahartikan.
Baik minal aidin atau taqabbalallahu adalah doa. Bila memang terlalu rikuh mengucapkan ucapan seperti itu, kita juga bisa ganti dengan bahasa kita sehari-hari. Yang betawi atau yang berbahasa Indonesia bisa ucapkan: semoga amal ibadah kita diterima di sisi Allah. Yang Sunda mungkin bisa katakan: atuh muga-muga we amalan urang sadaya ditarima ku gusti nu Maha Suci. Begitu juga yang Jawa, Batak, Mandailing, Melayu, Inggeris, dan lain sebagainya.
Tapi, baiknya kita masyarakatkan bahasa Arab. Itu syiar lho...
ianaja wrote on Oct 31, '06
ternyata dah ada yg nulis...

tadinya mau tak tulis, nih. tp kayaknya ini sudah sangat jelas.

ian add jd contact, ya? salam kenal...
lilamr wrote on Oct 31, '06
bukannya lebih afdol untuk mengucapakan taqabalallahu minna waminkum mas?
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=373
iya setahu saya yg sebenarnya sih ucapannya itu taqobbalallahu minna wa minkum...
itu pun gak harus di ucapkan, maksudnya gak seperti assalamu'alaikum kan yang lebih dulu ngucapin yang lebih baik...
religiusta wrote on Oct 31, '06
ianaja said
tadinya mau tak tulis, nih. tp kayaknya ini sudah sangat jelas.
Mungkin bisa ditulis dalam bentuk lain, dari sudut pandang lain. Misalnya, bagaimana kalau minal Aidin itu diganti dengan minal Aidzin (dengan tambahan z), apakah ada efeknya. Lalu bisa ditulis juga misalnya, bagaimana Rasulullah dan para sahabat menyambut idul fitri. Saya kira jadi pembahasan yang menarik, dan saling menambahkan dengan ulasan sederhana ini.
Silakan add. Makasih atas perkenalannya.
religiusta wrote on Oct 31, '06
Ada masukan menarik dari mas Akmal N. Basral:
Yang pertama, "Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin" adalah pengaruh dari tradisi/susatra lisan masyarakat kita (terutama yang tinggal di indonesia bagian barat) yang menyerupai bentuk rima (rhyme), meski seperti dijelaskan mas taufik arti sebenarnya tidak sinkron. Keelokan bunyi membuat frasa ini dipakai bertahun-tahun karena sedemikian mengakar di benak masyarakat.
Kedua, sebagai bagian dari proses pembelajaran kolektif, frasa "minal aidin dst..." ini dari tahun ke tahun semakin mengecil digunakan oleh masyarakat, diimbangi oleh pemakaian "taqabbalallahu minna wa minkum dst..." yang semakin banyak digunakan akhir-akhir ini. (tanggapan Akmal N. Basral, milis Penulis Lepas, dengan editing seperlunya).

Memperhatikan analisa mas Akmal di atas, saya berkesimpulan bahwa bunyi ritmik yang berujung sama, nyaris mirip seperti pantun, membuat orang-orang begitu gemar menggandengkan frasa ini dengan ucapan maaf. Kita tak menduga bahwa 'budaya' seperti ini akibat pengaruh dari tradisi rakyat Indonesia bagian barat. Pasti Sumatera!

Buru-buru mas Akmal mengoreksi:
Tentang bunyi yang seperti pantun itu, kalau mengingat konteks masyarakat Indonesia yang sejak lama menjadikan bahasa melayu (kebetulan memang dari sumatera) sebagai lingua franca, memang ini penjelasan yang lebih mudah diterima.

Tapi sebetulnya bentuk rima itu ditemukan di berbagai suku bangsa di manapun, dan merupakan salah satu bentuk sastra lisan yang paling banyak digunakan.
Format rima itu juga yang diadopsi oleh lagu-lagu pop, sehingga mudah menembus kuping pendengar. (Bayangkan, kalau isi syair lagu pop dalam bentuk puisi-puisi
serius).
***

Dari saya:
Lafal "minal aidin" mengena jika disandingkan dengan "wal-faizin"
Gabungan dari "minal aidin+wal-faizin" mengena jika bergandengan dengan "mohon maaf lahir bathin"... Karena menghasilkan suara yang sama.
Indah!
religiusta wrote on Oct 31, '06
lilamr said
itu pun gak harus di ucapkan
Ucapan minal aidin atau taqabbalallahu bukan niat seperti halnya "nawaitu showma ghodin" dalam puasa, atau "usholli fardhal" dalam shalat, jadi TIDAK WAJIB diucapkan.
Tapi semua ibadah bernilai etika. Etika sendiri bisa bernilai ibadah bila diniatkan. Ada Hadis yang mendukung argumentasi seperti ini.
sriprativil wrote on Nov 1, '06
hehe...tiwiw pernah belajar bahasa arab tapi cuma sebulan...

belajar fiil madi mudhori....tapi ga tuntas....(iya lah cuma sebulan)...

sepertinya bisa dilanjutkan disini ya...
fortheblossom wrote on Nov 1, '06
Met kenal...
Baru tau setelah nyoba ngelink dari jurnalnya mba Fetry. Makasih yaa.
Mudah2an ga salah2 lagi :).
religiusta wrote on Nov 3, '06
belajar fiil madi mudhori....tapi ga tuntas....(iya lah cuma sebulan)...
Sebulan sudah cukup untuk memahami 3 kata kerja sekaligus, yaitu: fi'il mudhori (present), fi'il madhi (past), dan fi'il amr (future).
Bahkan seandainya di tempat kursus yang mengajarkan 1 hingga 2 kali perminggu pun, memahami ketiga fi'il itu sudah cukup. Tapi, ya jelas, mempelajari ketiga kata kerja di atas hingga menjadi satu kalimat yang utuh, membutuhkan waktu yang cukup lama. Dia perlu dirangkai ke dalam isim sebagai maf'ul bihi (objeknya), tambah lagi dengan na'at (kata sifat) atau lengkapi dengan "hal" (kata keterangan), dst. Lama-lama nyambung deh.
Hanya saja, apa mungkin di sini, sekarang ini, melalui MP ini, kita bisa dirikan kursus bahasa Arab?
Saya bingung jawabnya :)
religiusta wrote on Nov 3, '06
Mudah2an ga salah2 lagi :).
Met kenal juga.
Kesalahannya bukan dari segi bahasa Arabnya sih, juga bukan dari etika, apalagi dari estetikanya. Kesalahan hanya ada pada struktur kalimat bahasa Indonesia. Dan yang menyalahkan tentu bukan para pakar bahasa Arab, melainkan Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia.
Bener gak yah?
liavantsi wrote on Nov 17, '06
oh...gitu yah...IC. Tararengkyu ya dah dikasih tau
religiusta wrote on Nov 17, '06
:)
laogie wrote on Aug 1, '07
thank's, jadi tambah deh pengetahuan saya! ^_^
adinugraha19 wrote on Oct 3, '07
Assalamu'alaikum wr wb..
Boleh tanya kan.
Kalau orang Islam meninggal (pria = Almarhum, kalau wanita = Alamarhumah), ada yang mengatakan bahwa istilah tersebut hanya untuk orang Islam.
Sekarang bagaimana dengan orang meninggal non Muslim apakah tidak boleh disebut almarhum/ah.
Asal kata Al marum, barangkali religiusta bisa berbagi pengetahuan mengenai arti kata/asal usul kata Almarhum....?

Terima kasih
Wassalam,
Adi Nugraha
sangpetualangku wrote on Oct 5, '07
wah lagi bahas apa tuh aku kurang jelas deh, he he he oh iya bisa di perjelas lagi gk .....
kand i Al'QURAN endak seperti itu hemmm ohi ya om aku bole tayak- tanyak gak tentang masalah orang UMROH sama HAJI itu bisa di jelaskan endak iya......
uda iya om aku cukup segitu kalo ada tulisan yang tak jelas maklumlah wong baru belajar he he he he he
membumbung wrote on Oct 10, '07
Taufik, katanya kalimat2 ucapan lebaran seperti itu hanya ada di Indonesia aja ya?
Kalau di negara lain ucapannya "Ied Mubaroq" .. mohon pencerahan.
sogeking wrote on Oct 16, '07
Hwaaaaaaa....
Jazakumullah....Matur Nuwun
Makasih banyak, jadi nambah wawasan nih
(sering2 baca blog nya bang Taufik ah!, hehe,:D)
ulaniori wrote on Oct 31, '07
Artikelnya bagus..Saya yang lemot ini akhirnya ngerti juga soal ini.. Makasih.. =)
religiusta wrote on Feb 26, '08
Artikelnya bagus..Saya yang lemot ini akhirnya ngerti juga soal ini.. Makasih.. =)
Lemot? Hehehe. Gak jadi soal. Insya Allah sajian tulisan di MP ini gak ada yang susah kok. Kata orang, "pake bahasa lisan, jangan pake bahasa buku. Nanti beku!". Katanya sih.
Begitu. Mudah-mudahan bermanfaat untuk siapa saja. Amin.
religiusta wrote on Feb 26, '08
Taufik, katanya kalimat2 ucapan lebaran seperti itu hanya ada di Indonesia aja ya?
Iya, emang. Justeru itulah, menarik untuk dibahas lebih lanjut.
mtbrockers wrote on Sep 26, '08
Mantabbb kali pencerahannya Pak Ustadz.

Mohon izin untuk CoPas ya.

Jazakallahu khoiron katsiron

Salam MTB, menggelinding tanpa BBM
religiusta wrote on Oct 2, '08
Mantabbb kali pencerahannya Pak Ustadz.
Terima kasih. Semoga bermanfaat. Ngomong-ngomong, background gelap kayak gini, apa kebaca?
religiusta wrote on Oct 2, '08
Semoga bermanfaat saja.
moumtaza wrote on Oct 4, '08
bagus, Mas, salaam kenal :)
fendy9 wrote on Oct 6, '08
Salam Kenal, saya ingin lebih jauh kenal anda... boleh kan... Dari Sumenep Madura.
religiusta wrote on Oct 6, '08
Tentu sangat boleh. Minal Aidin yah Mas?
Comment deleted at the request of the author.
realrainy wrote on Aug 24, '09
mas, artikel-artikelnya sangat informatif. saya mau tanya soal ta'jil atau ta'zil (untuk berbuka puasa). pengertiannya itu bagaimana sebenarnya? terima kasih.
religiusta wrote on Sep 23, '09
Istilah orang yang belum siap punya anak, kemudian dengan terpaksa ia "cabut" ketika ejakulasi agar tidak membuahi, itu namanya 'AZL. Tindakannya dinamakan TA'ZIL.
Sedangkan 'AJAL atau 'AJALAH adalah buru-buru, bergesa-gesa atau bersegera. Tindakan bersegera inilah dinamakan TA'JIL. Sekilas kata ta'jil tidak akan dimengerti oleh banyak orang, bahkan oleh orang yang ngerti bahasa Arab sekalipun, sebab seringkali istilah ini dimunculkan begitu saja (oleh saudara2 kita yang lain) tanpa memberitahu terlebih dahulu bahwa yang dimaksud adalah TA'JILUL IFTHAR (mensegerakan berbuka).
Apapun alasannya yang penting jangan TA'ZIL, yang tentu saja berkonotasi parno.
ap304 wrote on Sep 26, '09
Duh, semua penjelasan-penjelasannya sangat jelas. Bacanya juga asyik. Terima kasih banget. Selamat 'Idul Fitri. Semoga kita minal 'aidin wal faizin. Mohon maaf lahir bathin.
religiusta wrote on Sep 8, '10
Aamien ya mujiibas saa'iliin....
Add a Comment